Bapa kami yang ada di surga,
Dimuliakanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu.
Jadilah kehendak-Mu
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berilah kami rezeki pada hari ini,
dan ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah masukkan kami
ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

(Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin).

Apr 16, 2009

WAKTU-NYA


suatu ketika ku pinta pada Tuhan
stangkai bunga segar,
tapi Tuhan memberi kaktus jelek & berduri...
ku pinta kupu-kupu diberi-NYA ulat...

ku kecewa & mrasa sedih...

namun beberapa hari kmudian
kaktus itu berbunga sangat indah
dan ulat itu pun menjadi kupu-kupu yang cantik nan menawan...

itulah jalan TUHAN slalu "INDAH PADA WAKTUNYA"

Sembuh berkat Doa "Bapa Kami"



Palu – Namanya Selvin Bungge. Usianya baru 8 tahun. Ia bocah perempuan ajaib yang kini digelari dokter cilik oleh masyarakat Poso, Sulawesi Tengah. Pasalnya, ia dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, termasuk kebutaan dan kelumpuhan. Tersiar kabar dia mengobati orang hanya dengan doa “Bapa Kami di Surga” dan lagu “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara”.

Dokter cilik ini tinggal bersama orang tuanya di Desa Meko, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, sekitar 120 kilometer dari Poso. Ia masih menjadi murid kelas 2 SDN Meko dan murid sekolah minggu GKST El Shaday Meko. Sekolah minggu ini milik ayahnya. Selvin yang beragama Kristen Protestan ini dikenal sebagai bocah perempuan yang rajin beribadah.

Sayang sampai sekarang bagaimana proses pengobatan dokter cilik ini masihlah tanda tanda tanya besar, sebab para wartawan cetak maupun elektronik dilarang untuk mengambil potret, gambar maupun wawancaranya. Kata orang tuanya, itu sesuai pesan Selvin, sebab ia takut berkah yang diberikan Tuhan padanya akan hilang.

Sejak Januari 2007 lalu, di buku tamunya, pasien dan tamu yang berdatangan tidak kurang dari delapan ribu orang. Sementara ratusan lainnya masih terus menunggu giliran pengobatan yang hanya digelar dua hari dalam seminggu yakni Senin dan Jumat. Bagi yang masih menunggu giliran, mereka rela tinggal di tenda-tenda, balai desa maupun rumah-rumah penduduk di dekat tempat tinggal Selvin.

Beragam penyakit bisa disembuhkan mulai dari penyakit ringan asma hingga penyakit berat semisal stroke. Tapi tidak semua orang yang datang akan dilayani oleh Selvin. Kadangkala ia meminta agar mereka kembali saja ke rumahnya dan segera bertobat pada Allah.

Apakah dia dibayar untuk jasa pengobatannya yang terbilang luar biasa itu? Ternyata tidak. Ia selalu menolak. Pernah ada orang yang disembuhkan lalu memberinya uang jutaan rupiah, namun uang itu ditampiknya. Ia hanya mengambil Rp 1000.

“Ini saya ambil seribu untuk sumbangan gereja,” kata Selvi seperti yang ditirukan oleh ayahnya.

Pendeta Rinaldy Damanik, anggota Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah mengakui kabar tentang kehebatan Selvin. Ia mengakui bahwa memang ada orang buta dan orang lumpuh yang disembuhkan oleh dokter cilik ini.

Sampai kini, praktik pengobatan Selvin ini masih terus berlangsung. Warga yang datang meminta untuk diobati oleh Selvi tidak hanya dari Sulawesi Tengah, tapi juga Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Kekuasaan Tuhan memang ditunjukkanNya di mana-mana yang Dia inginkan.***



 






sumber: Jafar G Bua dari Poso dan Palu
http://catatanposo.blogspot.com/2007/04/dokter-cilik-sembuhkan-pasien-dengan_15.html







Apr 2, 2009

Mukjizat Ekaristi


Pemuda itu masih berumur 26 tahun. Masih teramat muda, ketika kejadian tragis menimpanya. September 2007, pada hari Minggu dia pergi ke gereja. Ketika Misa dimulai dan lagu pembukaan dilantunkan, tiba-tiba dia teringat ada sesuatu yang tertinggal di tempat kontrakannya. Tanpa pikir panjang dia pulang untuk mengambil barang yang tertinggal itu. Ketika berhenti di traffic light, dari belakang sebuah bus yang pecah ban menabraknya dan menyeret dia hingga sejauh 15 meter.

Tulang-tulang pemuda itu banyak yang patah dan remuk. Namun masih selamat ketika dia dilarikan ke rumah sakit. Dua hari dia dalam keadaan koma. Beberapa hari setelah sadar dokter yang merawatnya mengatakan bahwa dia akan meengalami lumpuh seumur hidup. Empat bulan dia terkapar tak berdaya di rumah sakit dan merasakan penderitaan yang sangat luar biasa. Puluhan juta habis sudah untuk biaya perawatannya.

Januari 2008 dia mulai dibawa pulang dan dirawat dirumah. Dia sudah mulai bisa bergerak dengan bantuan tongkat penyangga. Selama tiga bulan dia tak mampu lagi pergi ke gereja, namun selalu mendapat kiriman hosti dari paroki. Sampai suatu hari setelah dia menyambut hosti dia berdoa: "Ya Tuhan, sekiranya Engkau mengijinkan aku dapat berjalan, tentu hari ini aku mampu berjalan." Selesai berdoa dia mencari tongkatnya, namun tongkat itu tidak ada disamping tempat duduknya. Tongkat itu telah bergeser jauh, entah siapa yang meletakkannya disana. Biasanya dia masih dapat meraih dengan cara merambat, namun kali ini tak ada pegangan untuk dia bisa merambat menuju tongkatnya. Maka dicobanya untuk melangkah. Satu langkah...... dua langkah...... tga langkah...... hingga lima langkah pertama dapat dia lakukan. Muncul semangat besar dalam dirinya bahwa Tuhan menjawab doanya, Tuhan menyembuhkan dia. Maka dia pun mulai belajar berjalan tanpa tongkat.

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan pemuda itu di depan Goa Maria Jatiningsih (daerah Klepu, +/- 20 km arah barat Yogyakarta). Dia bercerita padaku tentang apa yang pernah dia alami. Sungguh aku melihat sebuah mukjizat telah terjadi. Sebuah kalimat yang meluncur dari mulutnya dan terekam dalam benakku hingga saat ini adalah, "Tuhan itu sungguh ada." Meski saat berjalan masih tampak pincang namun semangat besar dalam dirinya tampak menyala. Akupun semakin kagum ketika mendengar bahwa dia diterima bekerja sebagai Satpam meski keadaannya demikian.

Menghadap ke sungai Progo yang mengalir jauh dibawah kami, aku dengan tulus menyampaikan ucapan terima kasihku padanya, karena kesaksiannya menjadi penguat keyakinanku, bahwa Tuhan sungguh ada dan nyata dalam hdup kita. Hal yang mustahil dimata manusia telah terjadi karena iman yang kuat akan kasih Tuhan. Disampingku duduk seorang pemuda yang menemukan dan mengalami mukjizat Ekaristi.

Aku menoleh sejenak padanya. Kulihat kedua matanya menerawang jauh kedepan, masih ada rasa galau dalam hatinya, adakah gadis yang mau hiduo dengannya?


sumber:
"Ranting Embun"; 21 Desember 2008; No.51/Th.III/12/2008